Sakit memang. Saat kita telah
benar-benar mencintainya, ternyata kita
bukan satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya. Bahkan, aku tak sempat
menangis ketika melihat seseorang yang ku cintai menatap mesra wanita di
sampingnya. Mereka tak menyadari hadirku yang tercengang dari kejauhan. Sampai
aku menghampiri mereka. Ya, dengan bodohnya aku malah menghampiri mereka.
“Hei,
sama siapa?” tanyaku
pada lelaki yang kucintai itu dengan lembut.
“Halo,
kamu Aika kan? Kenalin aku Shiva pacarnya Ryan”
Wanita
di samping lelakiku yang menjawab sapaku. Aku melihat kekalutan pada lelakiku.
Aku tak banyak berkata. Aku ingin segera bergegas pergi sebelum emosi yang ku
tahan ini meledak. Aku tersenyum sesaat menjabat tangan wanita yang bernama
Shiva itu.
“Oh,
Kamu yang namanya Shiva? Aku pernah denger cerita tentang kamu.” aku memberikan
senyum terbaikku.
“Kamu
sa.. sama si.. siapa ke sini?” lelakiku berubah menjadi orang gagu.
“Sama
temen. Kalau gitu, aku ke sana dulu ya. Temen aku udah nunggu. Bye” sebelum
pergi, aku menyunggingkan senyum pada
wanita yang katanya bernama Shiva itu. Tapi dia tidak membalas senyumku. Dia
seperti menunggu aku menitikan air mata. Yang aku tahu, Shiva adalah masa lalu
Ryan. Dan yang aku tahu juga, satu jam yang lalu Ryan memberi kabar bahwa dia
akan pergi bersama keluarganya.
Aku terus berjalan di sepanjang
pusat perbelanjaan itu. Seorang temanku memandangku dengan penuh tatapan iba
yang tak pernah ku sukai. Dia juga tidak berani banyak berkata. Seketika dia menghentikan
langkahnya. Dia memelukku. Sangat erat.
“tidak perlu berlaku seolah kamu
baik-baik saja” dia memandangku masih dengan tatapan itu lagi.
“Tapi
aku memang baik-baik saja. Aku tahu Tuhan sedang menjawab doaku. Ryan bukan
yang terbaik untukku. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. ini bukan pertama kalinya.” aku kembali tersenyum
hanya untuk menutupi lukaku.
Walaupun sebenarnya aku tidak sedang baik-baik saja, Tapi aku berupaya untuk selalu
terlihat baik-baik saja. Kalau aku lemah, bukankah aku akan terlihat sangat menyedihkan? dan jika emosiku meledak, bukankah aku akan terlihat lebih begitu menyedihkan?
Sungguh.. aku ingin menangis sejadinya. Sampai seluruh
perih yang telah lama berkemelut hilang tersapu kristal yang mengalir. Tapi aku
sama sekali tak bisa menangis. Sakit rasanya. Bahkan begitu sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar