Kamis, 09 Januari 2014

(sekadar) cerita pendek

          Sakit memang. Saat kita telah benar-benar mencintainya, ternyata  kita bukan satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya. Bahkan, aku tak sempat menangis ketika melihat seseorang yang ku cintai menatap mesra wanita di sampingnya. Mereka tak menyadari hadirku yang tercengang dari kejauhan. Sampai aku menghampiri mereka. Ya, dengan bodohnya aku malah menghampiri mereka.
          “Hei, sama siapa?” tanyaku pada lelaki yang kucintai itu dengan lembut.
          “Halo, kamu Aika kan? Kenalin aku Shiva pacarnya Ryan”
Wanita di samping lelakiku yang menjawab sapaku. Aku melihat kekalutan pada lelakiku. Aku tak banyak berkata. Aku ingin segera bergegas pergi sebelum emosi yang ku tahan ini meledak. Aku tersenyum sesaat menjabat tangan wanita yang bernama Shiva itu.
          “Oh, Kamu yang namanya Shiva? Aku pernah denger cerita tentang kamu.” aku memberikan senyum terbaikku.
           “Kamu sa.. sama si.. siapa ke sini?” lelakiku berubah menjadi orang gagu.
        “Sama temen. Kalau gitu, aku ke sana dulu ya. Temen aku udah nunggu. Bye” sebelum pergi, aku menyunggingkan senyum  pada wanita yang katanya bernama Shiva itu. Tapi dia tidak membalas senyumku. Dia seperti menunggu aku menitikan air mata. Yang aku tahu, Shiva adalah masa lalu Ryan. Dan yang aku tahu juga, satu jam yang lalu Ryan memberi kabar bahwa dia akan pergi bersama keluarganya.
            Aku terus berjalan di sepanjang pusat perbelanjaan itu. Seorang temanku memandangku dengan penuh tatapan iba yang tak pernah ku sukai. Dia juga tidak berani banyak berkata. Seketika dia menghentikan langkahnya. Dia memelukku. Sangat erat.
               “tidak perlu berlaku seolah kamu baik-baik saja” dia memandangku masih dengan tatapan itu lagi.
               “Tapi aku memang baik-baik saja. Aku tahu Tuhan sedang menjawab doaku. Ryan bukan yang                      terbaik untukku. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. ini bukan pertama kalinya.” aku kembali       tersenyum hanya untuk menutupi lukaku.

Walaupun sebenarnya aku tidak sedang baik-baik saja, Tapi aku berupaya untuk selalu terlihat baik-baik saja. Kalau aku lemah, bukankah aku akan terlihat sangat menyedihkan? dan jika emosiku meledak, bukankah aku akan terlihat lebih begitu menyedihkan?
Sungguh.. aku ingin menangis sejadinya. Sampai seluruh perih yang telah lama berkemelut hilang tersapu kristal yang mengalir. Tapi aku sama sekali tak bisa menangis. Sakit rasanya. Bahkan begitu sakit. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar