Rabu, 12 Februari 2014

Satu Detik Setelah Aku Jatuh Cinta

“Kita baik-baik saja sebelum jatuh cinta” - @raidahazyyati

Kalimat itu diberikan sahabatku saat aku mengeluhkan perasaanku yang tak menentu akhir-akhir ini. Ia benar, bahkan satu detik sebelum aku jatuh cinta padamu, aku masih baik-baik saja. di detik setelah aku jatuh, barulah aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah. Bibirku kelu, pikiranku melayang, perasaanku bahagia, namun hatiku berseteru. Begitukah jatuh cinta? Satu detik setelah aku jatuh cinta, aku tak lagi baik-baik saja. Setiap malam sebelum terlelap, aku berharap bisa menemuimu dalam sesuatu yang disebut mimpi. Paginya selepas tidur, aku berharap mendapati menu sarapan sapa dan hadirmu. dan setiap kali aku mengingatmu, seperti ada gumpalan yang menyesakkan yang merengkuh dada ini. Begitu menyesakkan . Hingga aku harus menghela perlahan setiap kali aku bernafas.

Segala tentangmu melayang-layang di benakku. Aku terlalu ingat segalanya tentangmu. Aku ingat bagaimana kita bertukar nama. Aku ingat bagaimana kita saling bertukar sapa. Aku ingat bagaimana kau menyunggingkan lengkung manis di bibirmu. Aku ingat bagaimana kau melontar canda. Aku ingat bagaimana kau menyebut namaku. Aku juga ingat bagaimana kau menatapku. Ya, tatapan biasa memang. Tapi tatapan biasa itu bisa membuatku lebih jatuh ke dalam delusiku. Membuatku tersenyum sembari menahan nafas. dan lagi-lagi membuatku hanya melihatmu.

Aku tak pernah tahu kemana rasa bahagia yang berseteru ini akan berlabuh dan berakhir. Yang aku tahu, aku gila karena cinta. Cinta yang bahkan mungkin tidak pernah kau ketahui. Cinta yang bahkan mungkin akan selalu ku sembunyikan. Cinta yang bahkan mungkin terdengar konyol. Oh ya, mereka bilang perasaanku konyol. Entahlah, mungkin memang konyol jika usia yang memaknainya. Ah, tapi bukankah cinta tak pernah salah? Katanya cinta tak mengenal jarak, waktu, bahkan usia. Katanya. Walau kadang akupun merasa perasaan ini memang terlalu konyol.

Aku sempat merekam percakapan-percakapan kita. Lalu kumasukan dalam kotak kenangan. Tak banyak kenangan lain. Hanya ada tentangmu dan aku. Apa aku benar-benar jatuh cinta? Hingga tak ada satupun nama lain selain namamu? Menggelikan bukan? Tapi kau selalu berhasil membuatku tersipu dan tersenyum oleh sapaanmu. Kadang aku terenyuh. Entahlah, barangkali karena aku masih menyimpan rasa ini sendirian.

Kau tak berkeberatan kan aku melukiskan rasaku untukmu di sini? Ya, semoga tidak. Aku tak suka menyimpan rasa ini sendirian. Terlalu menyesakkan. Makanya aku merangkai kata untuk sekadar berbagi apa yang ku rasakan, di sini. Walau kau tetap takkan pernah tahu. Setidaknya, aku bisa membuat kenangan lewat tulisan ini. Kenangan bahwa aku pernah jatuh cinta diam-diam, padamu. :) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar