“Kita baik-baik saja sebelum jatuh cinta” -
@raidahazyyati
Kalimat
itu diberikan sahabatku saat aku mengeluhkan perasaanku yang tak menentu
akhir-akhir ini. Ia benar, bahkan satu detik sebelum aku jatuh cinta padamu,
aku masih baik-baik saja. di detik setelah aku jatuh, barulah aku mulai merasa
ada sesuatu yang berubah. Bibirku kelu, pikiranku melayang, perasaanku bahagia,
namun hatiku berseteru. Begitukah jatuh cinta? Satu detik setelah aku jatuh
cinta, aku tak lagi baik-baik saja. Setiap malam sebelum terlelap, aku berharap
bisa menemuimu dalam sesuatu yang disebut mimpi. Paginya selepas tidur, aku
berharap mendapati menu sarapan sapa dan hadirmu. dan setiap kali aku
mengingatmu, seperti ada gumpalan yang menyesakkan yang merengkuh dada ini. Begitu menyesakkan . Hingga aku harus menghela perlahan setiap kali aku bernafas.
Segala
tentangmu melayang-layang di benakku. Aku terlalu ingat segalanya tentangmu. Aku
ingat bagaimana kita bertukar nama. Aku ingat bagaimana kita saling bertukar sapa.
Aku ingat bagaimana kau menyunggingkan lengkung manis di bibirmu. Aku ingat
bagaimana kau melontar canda. Aku ingat bagaimana kau menyebut namaku. Aku juga
ingat bagaimana kau menatapku. Ya, tatapan biasa memang. Tapi tatapan biasa itu
bisa membuatku lebih jatuh ke dalam delusiku. Membuatku tersenyum sembari menahan
nafas. dan lagi-lagi membuatku hanya melihatmu.
Aku
tak pernah tahu kemana rasa bahagia yang berseteru ini akan berlabuh dan
berakhir. Yang aku tahu, aku gila karena cinta. Cinta yang bahkan mungkin tidak
pernah kau ketahui. Cinta yang bahkan mungkin akan selalu ku sembunyikan. Cinta
yang bahkan mungkin terdengar konyol. Oh ya, mereka bilang perasaanku konyol.
Entahlah, mungkin memang konyol jika usia yang memaknainya. Ah, tapi bukankah
cinta tak pernah salah? Katanya cinta tak mengenal jarak, waktu, bahkan usia.
Katanya. Walau kadang akupun merasa perasaan ini memang terlalu konyol.
Aku
sempat merekam percakapan-percakapan kita. Lalu kumasukan dalam kotak kenangan.
Tak banyak kenangan lain. Hanya ada tentangmu dan aku. Apa aku benar-benar
jatuh cinta? Hingga tak ada satupun nama lain selain namamu? Menggelikan bukan?
Tapi kau selalu berhasil membuatku tersipu dan tersenyum oleh sapaanmu. Kadang
aku terenyuh. Entahlah, barangkali karena aku masih menyimpan rasa ini
sendirian.
Kau
tak berkeberatan kan aku melukiskan rasaku untukmu di sini? Ya, semoga tidak. Aku
tak suka menyimpan rasa ini sendirian. Terlalu menyesakkan. Makanya aku
merangkai kata untuk sekadar berbagi apa yang ku rasakan, di sini. Walau kau tetap takkan pernah
tahu. Setidaknya, aku bisa membuat kenangan lewat tulisan ini. Kenangan bahwa
aku pernah jatuh cinta diam-diam, padamu. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar